Haji dan Umrah Dorong Pertumbuhan Industri Perhotelan Arab Saudi

Sektor perjalanan religi, khususnya haji dan umrah, menjadi salah satu fondasi penting yang menopang ketahanan industri perhotelan Arab Saudi di tengah dinamika dan gangguan perjalanan internasional. Tingginya mobilitas jemaah menuju kota-kota suci turut menjaga permintaan terhadap akomodasi, terutama di Makkah dan Madinah.

Hingga Juni 2026, tingkat hunian hotel di Madinah tercatat mencapai 75,1 persen menjadi yang tertinggi di Arab Saudi. Sementara itu, tingkat okupansi hotel di Makkah juga menunjukkan tren positif dengan mencapai 68,2 persen. Perolehan data menunjukan kuatnya permintaan akomodasi di Kota Makkah dan juga Madinah. Laporan tersebut didapat dari JLL bertajuk KSA Hotels Market Dynamics Q2 2026. 

Kinerja positif industri perhotelan Arab Saudi tidak terlepas dari tingginya aktivitas perjalanan religi, terutama kunjungan jemaah haji dan umrah yang masih menunjukkan permintaan kuat. Selain itu, mobilitas wisatawan domestik  terus berlangsung turut menjadi sumber permintaan yang menjaga tingkat hunian hotel tetap stabil. Para pelaku industri juga menerapkan berbagai strategi untuk mengoptimalkan pendapatan sekaligus mengendalikan biaya operasional.

Kuatnya permintaan dari sektor haji dan umrah serta perjalanan domestik membuat pasar perhotelan Arab Saudi relatif lebih mampu bertahan dari dampak gangguan perjalanan internasional. Kondisi ini berbeda dengan segmen hotel yang bergantung pada perjalanan bisnis dan korporasi. Pasar tersebut menghadapi tekanan akibat melemahnya permintaan dari kalangan perusahaan, sementara penambahan pasokan kamar hotel baru turut meningkatkan persaingan di pasar.

Selain itu, kinerja pasar perhotelan juga terlihat dari pertumbuhan pendapatan per kamar yang tersedia atau Revenue per Available Room (RevPAR). Di Makkah, RevPAR tercatat meningkat 8,7 persen. Pertumbuhan ini semakin memperkuat posisi Makkah sebagai salah satu pasar perhotelan utama Arab Saudi yang tetap mampu menunjukkan ketahanan di tengah berbagai gangguan pada sektor perjalanan internasional.

Peningkatan kinerja salah satunya didorong oleh bertambahnya jumlah kedatangan jemaah selama musim haji dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Tingginya arus jemaah menciptakan permintaan yang kuat terhadap akomodasi hotel di dua kota suci, sehingga memberikan dampak positif terhadap tingkat hunian dan pendapatan hotel.
Permintaan terhadap akomodasi juga tidak langsung menurun setelah rangkaian ibadah haji berakhir. Dampak permintaan pascahaji turut dirasakan di Madinah, seiring banyak jemaah melanjutkan perjalanan ke kota tersebut.

Madinah bahkan mencatatkan tingkat hunian hotel tertinggi di Arab Saudi, yakni sebesar 75,1 persen. Stabilnya permintaan dari perjalanan ibadah membantu menahan penurunan RevPAR di tengah melemahnya tarif rata-rata harian atau Average Daily Rate (ADR). RevPAR di Madinah hanya mengalami penurunan sebesar 2,4 persen, kuatnya permintaan dari jemaah masih mampu menopang kinerja perhotelan meskipun harga rata-rata kamar mengalami tekanan.

CEO JLL untuk Arab Saudi sekaligus Head of Capital Markets KSA, Saud Al Sulaimani, menilai bahwa perjalanan domestik dan kunjungan jemaah menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas tingkat hunian hotel di Arab Saudi.
“Pasar perhotelan Arab Saudi terus menunjukkan ketahanan struktural jangka panjang karena wisatawan domestik dan jemaah yang melakukan perjalanan ibadah menyediakan fondasi tingkat hunian yang stabil. Seiring Kerajaan melanjutkan pencapaian Visi 2030, investasi strategis dalam infrastruktur dan diversifikasi aset terus mentransformasi sektor ini. Langkah-langkah tersebut akan mengangkat Kerajaan menjadi destinasi utama yang multifaset dan siap menarik audiens internasional yang semakin beragam, jauh melampaui pasar tradisional perjalanan ibadahnya,” ujar Saud Al Sulaimani.

Berbeda dengan Makkah dan Madinah yang mendapat dukungan kuat dari aktivitas perjalanan religi, pasar perhotelan di Riyadh menghadapi tekanan yang lebih besar. Tingkat hunian hotel di Riyadh turun sebesar 9,2 poin persentase menjadi 47,6 persen. Penurunan okupansi tersebut turut berdampak pada pendapatan per kamar yang tersedia atau Revenue per Available Room (RevPAR), yang tercatat merosot 23,2 persen.

Sementara itu, Jeddah menunjukkan kondisi yang relatif lebih stabil. Tingkat okupansi hotel di kota tersebut hanya turun 0,9 poin persentase menjadi 66,4 persen. Meski aktivitas perjalanan rekreasi domestik masih memberikan dukungan terhadap permintaan hotel. Akibat penurunan ADR tersebut, RevPAR di Jeddah mengalami penurunan sebesar 7,2 persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun permintaan dari wisatawan domestik masih berjalan, tekanan pada tarif kamar tetap memengaruhi kinerja pendapatan industri perhotelan.

Pada kuartal II 2026, Makkah mencatat penambahan sekitar 1.100 kamar hotel. Pada periode yang sama, Madinah juga mengalami peningkatan inventaris dengan tambahan sekitar 220 kamar. Dengan adanya penambahan tersebut, total persediaan akomodasi di Makkah dan Madinah sebagai dua Kota Suci mencapai sekitar 354.800 kamar.

Penambahan pasokan hotel tidak hanya terjadi di Makkah dan Madinah. Riyadh mencatat tambahan sekitar 490 kamar pada kuartal II 2026, sementara inventaris hotel di Jeddah bertambah sekitar 180 kamar. Semakin pesatnya pertumbuhan sektor pariwisata dan perhotelan Arab Saudi seiring meningkatnya perjalanan wisata serta implementasi agenda diversifikasi ekonomi dalam Visi 2030. 

Di sisi lain, pemerintah terus mengembangkan berbagai destinasi wisata baru sebagai bagian dari upaya menarik wisatawan internasional dengan latar belakang dan tujuan perjalanan yang lebih beragam. Meski jumlah kunjungan wisatawan secara keseluruhan mengalami penurunan sekitar 5–7 persen dalam lima bulan pertama 2026, kondisi tersebut belum mengubah prospek jangka panjang industri perhotelan Arab Saudi.
Konsistensi arus kunjungan jemaah haji dan umrah di tengah dinamika industri pariwisata menjadikan Makkah dan Madinah sebagai pasar yang berperan penting dalam menopang ketahanan sektor perhotelan Arab Saudi.