Biaya Haji Kian Mahal Akibat Rupiah Anjlok
Kementerian Haji dan Umrah menyatakan bahwa harapan calon jemaah untuk biaya haji yang lebih ringan terganjal oleh pelemahan Rupiah. Menteri Haji dan Umrah, Mochamad Irfan Yusuf, mengakui bahwa meskipun pemerintah terus mencari cara untuk menekan biaya, depresiasi nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS dan riyal Arab Saudi membuat kenaikan biaya tidak terhindarkan.
"Komponen dolar, komponen riyal, kalau toh harganya tetap karena depresiasi rupiah, itu akan naik. Dan itu tidak bisa terhindarkan," kata Irfan. Pernyataan ini menunjukkan bahwa pelemahan Rupiah menjadi faktor utama yang membuat biaya perjalanan haji melonjak.
Untuk biaya haji tahun 2025, jemaah harus membayar Rp55,43 juta. Sisa biaya sebesar Rp33,97 juta akan ditutup dari nilai manfaat dana haji. Meski begitu Menteri Haji dan Umrah, Irfan Yusuf, mengatakan bahwa rincian akhir masih dalam pembahasan. Pemerintah terus mencari celah untuk menekan biaya di setiap komponennya.
Sampai sekarang ini, belum bisa mengumumkan angka pasti biaya haji. Namun, ia optimistis biaya akan turun dan menegaskan, "Kami belum bicara angka. Tapi InsyaAllah turun. Kami kerja keras."
Hari ini nilai tukar Rupiah mencapai Rp16.596 per dolar AS. Pelemahan ini secara langsung memengaruhi biaya-biaya perjalanan haji yang berbasis mata uang asing.
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan tekanan terhadap Rupiah akan berlanjut. Menurutnya, mata uang Garuda berpotensi melemah lebih lanjut hingga menyentuh level Rp16.600 - Rp16.650 per dolar AS. Kondisi ini menuntut pemerintah untuk mencari solusi kreatif agar biaya haji bisa lebih ringan, namun tanpa mengorbankan kualitas layanan bagi para jemaah. Ini menjadi tantangan besar bagi pemerintah di tengah pelemahan Rupiah yang terus terjadi.