Memasuki tahun 2026, Ramadhan di Arab Saudi tampaknya akan terasa "lebih ringan" dan menyejukkan. Bulan suci kali ini jatuh pada musim dingin, yang secara otomatis memangkas durasi puasa harian menjadi lebih singkat. Menurut pakar astronomi Abdullah Al-Mosned, waktu puasa diperkirakan hanya berkisar antara 12 hingga 13 jam saja. Suhu udara yang lebih rendah memberikan kenyamanan ekstra saat berpuasa maupun beribadah di malam hari. Kondisi lingkungan juga mempermudah jamaah dalam menjaga stamina, terutama bagi mereka yang memiliki mobilitas tinggi di luar ruangan.
Senada dengan hal tersebut, Lembaga Astronomi Jeddah telah merilis prediksi kemunculan hilal Ramadan melalui perhitungan astronomis. Mengutip laporan theislamicinformation, bahwa Februari merupakan periode yang dipenuhi fenomena langit. Banyaknya fenomena langit yang terjadi menjadikan bulan ini waktu yang sangat ideal bagi para pecinta antariksa untuk memantau benda-benda langit, termasuk persiapan menyambut awal Ramadhan.
Majid Abu Zahrah, selaku pimpinan Asosiasi Astronomi Jeddah, memaparkan bahwa fase bulan ditentukan oleh konfigurasi geometrisnya terhadap Matahari dan Bumi. Sebagai contoh, bulan mencapai fase purnama saat sudut elongasi atau jarak sudutnya berada pada posisi 180 derajat dari Matahari. Ia menegaskan bahwa aspek fisik dan pengamatan bulan tidak dipengaruhi oleh penamaan tradisional. Selain itu, fase bulan bersifat tetap dan tidak dipengaruhi oleh perubahan musim, cuaca, maupun letak geografis pengamat di Bumi.
Seiring dengan semakin dekatnya bulan suci berdasarkan perhitungan tersebut, perhatian kini beralih pada kesiapan teknis di Tanah Suci. Memasuki fase penentuan Ramadhan 1447 Hijriah, otoritas pengelola dua masjid suci merilis jadwal resmi imam shalat Tahajud untuk 10 malam terakhir. Bagi umat Muslim yang berencana beriktikaf di Tanah Suci, jadwal imam ini berlaku untuk dua masjid utama, yaitu di Makkah dan Madinah. Ibadah shalat Tahajjud dijadwalkan berlangsung selama sepuluh malam terakhir, tepatnya mulai dari malam ke-21 hingga malam ke-30 Ramadhan 1447 H.
Untuk memudahkan persiapan jamaah, setiap rangkaian shalat akan dimulai pada pukul 00.30 waktu setempat. Di Masjidil Haram, sejumlah imam besar akan bertugas bergantian dalam beberapa kali salam (taslim), kemudian ditutup dengan shalat Witir pada jadwal yang telah ditentukan. Adapun rincian lengkap mengenai giliran para imam tersebut adalah sebagai berikut:
Imam 10 Malam Terakhir Ramadhan 1447 H - Masjidil Haram :
Imam 10 Malam Terakhir Ramadhan 1447 H - Masjid Nabawi :
Jadwal ini disusun oleh General Presidency for the Affairs of the Two Holy Mosques. Demi menjamin kelancaran ibadah Tahajud selama di Makkah dan Madinah. Mengingat sepuluh malam terakhir Ramadan adalah puncak ibadah bagi umat Muslim di seluruh dunia, di mana umat Islam memperbanyak doa dan munajat demi mengejar kemuliaan malam Lailatul Qadar.