Menelusuri Jejak Kaum Tsamud: Mengapa Umat Islam Harus Mengunjungi Al-Ula?

Bagi banyak orang, nama Al-Ula mungkin sering terdengar akhir-akhir ini seiring dengan gencarnya promosi pariwisata Arab Saudi. Namun, bagi umat Islam, wilayah yang mencakup Madain Saleh ini adalah bagian dari sebuah sejarah. Sering dijuluki sebagai 'museum terbuka' terbesar di dunia, kawasan seluas ribuan kilometer persegi ini baru saja membuka gerbangnya secara luas bagi dunia internasional. Bermula di Hegra atau yang lebih dikenal sebagai Madain Saleh. Sebagai situs pertama di Kerajaan ini yang meraih pengakuan Warisan Dunia UNESCO, kawasan yang juga disebut Al-Hijr ini berdiri sejajar dengan situs-situs ikonik dunia lainnya.

Namun, kemegahannya tidak berdiri sendiri, eksistensi Dadan, prasasti kuno di Jabal Ikmah serta lorong-lorong bersejarah di Kota Tua Al-Ula membentuk satu kesatuan nilai sejarah yang tak ternilai harganya bagi peradaban manusia. Mengutip dari laman Experience Al-Ula, pemerintah Arab Saudi membawa misi besar agar keajaiban alam dan situs warisan ini tetap abadi hingga ribuan tahun ke depan. Namun, keindahan ini hanya bisa bertahan jika kita, sebagai pengunjung, ikut menuliskan kisah pelestariannya. Menikmati Al-Ula bukan sekadar datang dan berfoto, tapi juga tentang menaruh hormat pada setiap jengkal monumen bersejarah yang ada. 

Terletak sekitar 380 km di utara Madinah, Kota Al-Ula menyimpan pesona sejarah yang luar biasa di barat daya Tayma, Arab Saudi. Secara historis, kota ini merupakan titik krusial dalam Jalur Perdagangan Dupa sekaligus ibu kota kuno bagi bangsa Lihyan (Dedanites). Meski menyimpan kekayaan arkeologi berusia lebih dari 2.000 tahun yang menarik minat wisatawan dunia, Al-Ula memiliki sisi unik dalam pandangan Islam, ia sering diingat sebagai kawasan yang penuh peringatan dari masa lalu.

Al-Ula berperan penting dalam perjalanan dakwah Rasulullah SAW. Salah satu momen paling ikonik adalah ketika Nabi Muhammad SAW melintasi wilayah ini dalam perjalanan menuju Perang Tabuk. Namun, alih-alih menjadikannya tempat beristirahat yang tenang, Rasulullah SAW menunjukkan sikap yang tak biasa. Beliau enggan meminum air dari sumber di sana, bahkan mempercepat langkah untanya tanpa menoleh ke kanan maupun kiri, seolah ingin segera meninggalkan kawasan tersebut. 

Sikap Rasulullah ini bukanlah tanpa alasan. Al-Ula adalah tanah tempat kaum Tsamud dahulu berdiri dengan segala kesombongannya. Sebagai kaum Nabi Saleh AS, mereka tidak hanya menentang dakwah ketauhidan, tetapi dengan angkuh menantang datangnya azab Allah SWT. Akibatnya peradaban mereka yang megah luluh lantak dalam sekejap. Hingga kini, stigma sebagai 'tanah yang diazab' masih membekas kuat dalam ingatan kolektif masyarakat Arab, hingga muncul mitos lokal yang menyebutnya sebagai daerah berhantu yang dihuni bangsa jin.

Dulu, banyak orang enggan untuk berkunjung karena memahami hadis Nabi SAW secara tekstual untuk menjauhi tempat kaum yang diazab. Namun, ulama meluruskan bahwa tujuannya bukan untuk memboikot tempatnya, melainkan menjaga adab saat mengunjunginya. Rasulullah SAW pernah berpesan saat melewati wilayah ini dalam perjalanan menuju Perang Tabuk:
"Janganlah kalian memasuki tempat tinggal orang-orang yang menzalimi diri mereka sendiri (kaum yang diazab), kecuali kalian dalam keadaan menangis. Jika kalian tidak menangis, maka janganlah memasuki tempat mereka, agar kalian tidak tertimpa musibah seperti yang menimpa mereka." (HR. Bukhari no. 433 & Muslim no. 2980).

Kisah Nabi Saleh AS dan bangsa Tsamud bukan sekadar dongeng masa lalu, melainkan sebuah peringatan nyata yang jejaknya masih bisa disaksikan hingga hari ini. Diutus untuk membawa risalah ketauhidan, Nabi Saleh justru menghadapi penolakan keras dari kaumnya yang sombong. Puncaknya, pengabaian mereka terhadap perintah Allah dan pembunuhan unta mukjizat memicu datangnya azab berupa suara menggelegar dan gempa bumi dahsyat yang meluluhlantakkan peradaban mereka dalam sekejap. Beliau memilih untuk tidak berlama-lama dan menghindari Al-Ula bukan karena kebencian terhadap lokasinya, melainkan sebagai bentuk penghormatan terhadap "adab di tempat kehancuran". Nabi Muhammad SAW mengajarkan bahwa tempat-tempat yang menjadi saksi bisu kebinasaan umat terdahulu akibat pembangkangan kepada Sang Pencipta seharusnya dipandang dengan rasa takut (khauf) dan refleksi mendalam, bukan sebagai tempat rekreasi biasa.

Dalam perspektif Islam kontemporer, berkunjung ke Al-Ula diperbolehkan selama niat utamanya adalah untuk mengambil I’tibar atau pelajaran mendalam mengenai sejarah dan ketauhidan, bukan sekadar untuk perayaan yang bersifat hura-hura atau pemujaan terhadap lokasi tersebut. Melalui tata kelola Royal Commission for Al-Ula, situs ini menjadi bukti visual nyata atas narasi dalam Al-Qur'an. Inilah bentuk baru dakwah melalui arkeologi, di mana setiap pahatan batu di Madain Saleh menjadi pengingat bagi manusia akan kekuasaan Allah yang mutlak. Dan kunjungan ke tempat ini juga sebagai bentuk tadabbur alam dan sejarah secara nyata. Dengan melihat sisa-sisa kaum Tsamud, tidak hanya belajar tentang arkeologi, tetapi juga memperkuat iman melalui bukti fisik dari kisah-kisah di dalam Al-Qur'an.