Pemerintah Siapkan Kolaborasi Klinik Kesehatan Bagi Jemaah Haji Indonesia

Mengantisipasi kebijakan baru Arab Saudi yang melarang operasional klinik mandiri negara asing, Pemerintah Indonesia bergerak cepat. Wamen Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak, mengungkapkan bahwa Indonesia tengah menjajaki Kerja Sama Operasi (KSO) dengan rumah sakit Saudi. Upaya strategis ini dilakukan untuk menjamin pelayanan kesehatan jemaah haji 2026 tetap berjalan prima, meskipun ada pembatasan baru dari otoritas setempat. "Atas usulan dan desakan Komisi VIII DPR, kami sudah memulai pembicaraan dan merencanakan Kerja Sama Operasi (KSO) dengan sejumlah rumah sakit di Saudi Arabia."

Dahnil menjelaskan bahwa Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI), baik yang berlokasi di Makkah maupun Madinah, akan menjalani transformasi status operasional. "KKHI kita, kita punya KKHI di Mekkah, punya klinik haji juga di Madinah. Nah, itu nanti operasinya bersama dengan rumah sakit Arab Saudi yang legal," terangnya. Dengan demikian, KKHI tidak lagi beroperasi secara mandiri, melainkan dalam bentuk kolaborasi resmi dengan fasilitas medis milik Kerajaan Saudi.

"Pihak Arab Saudi telah berkomitmen penuh untuk mendukung peningkatan layanan kesehatan darurat di musim haji, termasuk memfasilitasi mobile emergency unit. Selain itu, kami sedang dalam tahap penjajakan agar tenaga kesehatan Indonesia, baik dokter maupun perawat dapat dipekerjakan secara langsung oleh rumah sakit di Saudi yang menjalin kerja sama dengan kita," tambahnya.

Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, Abdul Wachid, sebelumnya telah mewanti-wanti pemerintah Indonesia mengenai regulasi baru dari otoritas Saudi. Ia menekankan bahwa mulai tahun berikutnya, Indonesia tidak lagi diperbolehkan mendirikan dan mengoperasikan klinik kesehatan secara mandiri selama musim haji, dan dimulai dari musim haji tahun depan, yang berujung pada keharusan merujuk seluruh pasien jemaah sakit langsung ke rumah sakit Arab Saudi. 

Menurut Wachid, adalah memastikan ketersediaan Sumber Daya Manusia (SDM) kesehatan Indonesia yang siap diintegrasikan. "Ini PR besar untuk kesehatan perlunya kita menyediakan SDM yang nanti akan masuk sebagai pelayan kesehatan di rumah sakit Arab Saudi," tegasnya. Hal ini  mengacu pada tantangan adaptasi dan penempatan tenaga medis Indonesia di dalam sistem rumah sakit milik Kerajaan Saudi.

Oleh karena itu, pelatihan intensif dan kesiapan tenaga kesehatan Indonesia menjadi sesuatu yang sangat penting. Perubahan sistem kolaborasi ini tidak boleh menjadi alasan untuk menurunkan mutu layanan jemaah. "Kualitas pelayanan tak boleh menurun hanya karena perubahan sistem,” tutupnya, memberikan penekanan terakhir pada jaminan kesehatan jemaah.