Pesona Khat Kiswah Ka'bah dan Dedikasi Mukhtar Alam di Baliknya
Setiap kali musim haji dan umrah tiba, jutaan pasang mata jemaah dari berbagai belahan bumi akan tertuju pada satu titik suci Baitullah. Di tengah riuhnya kekhusyukan ibadah, pesona Kiswah kain beludru hitam yang menyelimuti Ka'bah selalu berhasil memikat hati siapa pun yang memandangnya. Keindahan kain ini terletak pada detail pengerjaannya yang luar biasa. Di atas hamparan kain sutra tersebut, bait-bait suci Al-Qur'an dipahat dengan sangat anggun melalui sulaman benang emas dan perak murni, menjadikannya simbol keagungan yang memadukan kesakralan ibadah dengan tingginya nilai estetika.
Sosok di balik keagungan seni tulisan pada Kiswah Ka'bah adalah Mukhtar Alam Shaqdar. Selama lebih dari 20 tahun, sang maestro mengemban amanah besar sebagai kaligrafer utama untuk menjaga presisi, kualitas, dan estetika tulisan pada kain penutup Baitullah tersebut. Menariknya, meski ia memiliki garis keturunan Bangladesh, Mukhtar Alam sepenuhnya lahir dan tumbuh besar di Arab Saudi. Ketertarikannya pada seni kaligrafi Arab (seni khat) sudah berakar sejak ia masih belia. Alih-alih instan, keahliannya hari ini adalah buah dari proses belajar yang sangat panjang dan penuh ketekunan. Berkat ketekunannya, kini ia dikenal luas sebagai salah satu pakar kaligrafi paling berpengaruh yang karya tangannya dihargai oleh jutaan umat Muslim di dunia.
Untuk bisa berkontribusi pada kain penutup Ka'bah, Mukhtar Alam harus membuktikan bakatnya terlebih dahulu. Portofolio hasil kerjanya diserahkan kepada pihak otoritas pembuatan Kiswah. Sebelum pintu gerbang karier ini terbuka, ia diwajibkan menjalani ujian yang sangat selektif. Mukhtar Alam bahkan harus menempuh ujian praktik kaligrafi yang ketat di bawah pengawasan ketat Universitas Umm Al-Qura di Kota Makkah.
Berkat keahliannya yang luar biasa, Mukhtar Alam berhasil melewati seluruh tahapan seleksi yang menguras kemampuan tersebut dengan hasil gemilang. Pada bulan Jumadal Awal 1423 Hijriah, atau bertepatan dengan Juli 2002, ia resmi diangkat menjadi bagian dari Pabrik Kiswah Ka'bah. Sejak momen bersejarah itu, ia memikul tanggung jawab besar sebagai salah satu penjaga keindahan visual pada simbol paling suci dalam dunia Islam. Mukhtar Alam membawa pembaruan signifikan pada metode kerja pembuatan kain penutup Ka'bah dengan memadukan seni khat klasik dan teknologi digital.
Salah satu terobosan penting yang ia bawa ke dalam Pabrik Kiswah adalah digitalisasi proses desain menggunakan perangkat lunak (software) kaligrafi elektronik khusus berbasis komputer. Intervensi teknologi ini bukan untuk menggantikan seni manual, melainkan sebagai alat bantu untuk mendongkrak tingkat akurasi geometri huruf, menjaga konsistensi bentuk khat, serta memastikan kesempurnaan kualitas tulisan. Proses kurasi digital yang ketat ini menjadi fondasi krusial sebelum pola kaligrafi diaplikasikan langsung ke kain sutra dasar untuk memasuki tahap penyulaman akhir menggunakan material benang emas dan perak.
Dalam menjalankan tugasnya, Mukhtar Alam sangat menghormati warisan sejarah. Ia tetap mempertahankan desain dasar Kiswah legendaris hasil karya Syekh Abdul Rahim Amin Bukhari, yang menggunakan jenis Khat Tsuluts (Thuluth) gaya kaligrafi yang dikenal sebagai salah satu yang paling indah, rumit, dan berwibawa dalam peradaban Islam. Mukhtar Alam tidak melakukan perombakan pada struktur dasarnya, melainkan mengeksekusi beberapa inovasi teknis untuk mendongkrak kualitas visual kain penutup Baitullah tersebut. Penyempurnaan tersebut mencakup optimalisasi dimensi huruf, perluasan ruang penulisan, penyesuaian matematis pada proporsi ornamen geometris, serta peningkatan estetika pada ornamen dekoratif sitarah (tirai pintu Ka'bah) agar terlihat semakin megah dan presisi.
Secara popularitas personal mungkin tidak sepopuler para figur ulama atau imam besar di Masjidil Haram. Kendati demikian, impak dari kontribusinya dinikmati secara visual oleh jutaan umat Islam global setiap harinya. Sebagai penjaga aksara suci pada Kiswah Ka'bah, ia berhasil memastikan bahwa setiap untaian ayat Al-Qur'an disajikan dengan standar estetika tertinggi. Hasil kerjanya kini berdiri tegak sebagai simbol yang merefleksikan kesucian Baitullah, sekaligus menjadi jembatan sejarah yang menghubungkan kejayaan seni rupa Islam masa lalu dengan kemegahan di masa kini.